Merujuk pada tema Nasional “Lindungi Pekerja, Keluarga dan Bangsa” dari bahaya HIV/AIDS tentunya perlu upaya dan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam melakukan berbagai program untuk mencegah HIV/AIDS. Pengidap HIV/AIDS di Indonesia bukan hanya kelompok yang bersiko tinggi (Wanita Tuna Susila, Korban NAPZA, Perempuan Korban Trafiking, Anak Jalanan, Anak Berhadapan dengan Hukum, Anak Terlantar dan Pekerja Migran Bermasalah, akan tetapi juga dapat menulari masayarakat umum, khususnya kaum ibu rumah tangga, dan anak, demikian diungkapkan Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial RI, Toto Utomo Budi Santosa dalam acara Seminar “Pelayanan Sosial ODHA Sebagai Upaya Mencegah Mitigasi Dampak Sosial HIV/AIDS” di Hotel Grand Cempaka, Jakarta (12/12).

Upaya penanggulangan tentunya perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu antar berbagai instansi terkait, selain itu upaya sosialisasi dan pembahasan masalah HIV/AIDS seperti yang sekarang kita lakukan tetap merupakan upaya penting karena mempunyai dampak yang luas dalam meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat akan bahaya penyakit ini serta melindungi diri dan keluarga dari penulan HIV/AIDS, lanjut Setjen.

Toto menambahkan, “Penanggulangan HIV/AIDS hendaknya didasari bahwa masalah ini sudah menjadi masalah yang mendesak dan perlu segera ditangani, karena Orang dengan HIV/AIDS bukan hanya berurusan dengan kondisi sakit, tetapi juga disertai dengan stigma sosial yang berakibat pada perlakuan diskriminatif sehingga mereka merasa tersisi dari lingkungan sosial”.

“Para pengidap HIV/AIDS punya hak yang sama untuk hidup sebagaimana masyarakat lainnya, mereka berhak mendapatkan perlindungan dan pendampingan sosial, selain itu perlu mengubah pemahaman dan pola pikir masyarakat sehingga tidak lagi memberikan stigma dan diskiriminasi terhadap Orang denga HIV/AIDS”, jelasnya.

Toto menegaskan, “tidak ada alasan untuk mendiskriminasikan seseorang hanya karena seseorang tersebut terinveksi HIV/AIDS, apabila mereka mendapatkan perlakuan dan stigma tersebut tentunya mereka akan termarginalisasi dan sulit dijangkau pelayanan program, dan tentunya mereka berpotensi untuk menjadi sumber penularan HIV/AIDS, ini tentu akan menghambat keberhasilan program penaggulangan HIV/AIDS secara keseluruhan.

“Saatnya kita bersama – sama saling bahu membahu untuk mengkampanyekan Stop AIDS sekarang juga dengan tanggung jawab, cinta kasih dan Kesetiakawanan Sosial”, tandasnya.

Dengan adanya Duta pencegahan HIV/AIDS ini, saya berharap “Semoga Dona Arsinta yang telah terpilih dari beberapa kandidat dapat menjalankan tugas dengan sebaik – baiknya dalam menyebarluaskan informasi melalui penyuluhan dan sosialisasi kepada masayarakat dalam menanggulangi HIV/AIDS.***(Tira/C-9)

Sumber : Rehsos